Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Sahabat Nabi - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Sahabat Nabi - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO

Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Sahabat Nabi

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dulur-dulur Sarjana123.com seiman dan seakidah…Calon sarjana Ekonomi Syariah....

Mungkin kita sering bertanya lur, ketika mau bisnis dan berwirausaha, mau membeli rumah, mau membeli motor atau mobil, kita akan bertanya uang darimana yang akan saya gunakan ? Modal darimana ? Pinjam modal di bank ? Nanti terkena bunga. Pasti Riba dong. Lalu, darimana lagi saya akan mendapatkan uang atau modal tersebut ?

Seringkali kita beranggap seperti itu. Kemudian seakan-akan pupuslah semua impian untuk menjadi seorang pengusaha, untuk mendapatkan rumah impian, memiliki mobil atau motor kendaraan yang harap-harapkan. Kalau kita tidak menggunakan pinjaman dari bank, dari mana lagi? Rasa pesimis itu pun kemudian melanda. Seakan yang punya duit hanyalah bank, seakan-akan kalau tanpa bank, maka dunia akan kiamat. Harapan, cita-cita Anda akan sirna. 

Padahal, kalau kita percaya siapa yang memberi rejeki maka seharusnya kita tidak mempunyai rasa pesimis. Karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan pernah tidur dalam memberi rejeki kepada semua makhluknya. Pintu rejeki Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah habis serta tidak  pernah tertutup. Pintu rejeki Allah subhanahu wa ta’ala tersebar di mana-mana. Oleh karena itu banyak pakar pengusaha yang mengatakan bahwa kewirausahaan itu adalah pola pikir dan bukanlah tentang uang. Kewirausahaan itu bukanlah keturunan namun bagaimana kita dapat memandang sebuah peluang atau bahkan sebagai rahmat.

Sahabat Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallohu ta’ala ‘anhu sebelumnya merupakan seorang saudagar kaya raya di Mekkah, namun karena tuntutan berhijrah di jalan Allah, meninggalkan kampung halamannya  Mekah, serta tinggal di kota Madinah maka beliau tinggalkan semua kekayaan dia di kota Mekkah demi menyelamatkan imannya, demi untuk dapat hidup berdampingan selalu bersama Rasululah saw sehingga ketika tiba di kota Madinah beliau tidak memiliki kekayaan apapun. Beliau datang hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.

Namun berkat strategi yang ditempuh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada waktu itu, dimana setiap dua orang sahabat, satu dari muhajirin, satu dari anshor dipersaudarakan agar mereka dapat saling bantu membantu serta bahu membahu.

Kebetulan, sahabat Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan sahabat Saad ibnu Rabi’ yang pada saat itu mempunyai harta yang melimpah serta memiliki dua istri. Beliau mengatakan, “Wahai Abdurrahman, aku memiliki dua istri. Kalau  engkau mau, aku ceraikan satu darinya dan bila telah selesai masa iddahnya silakan engkau nikahi satu darinya. Aku memiliki harta, bila engkau mau akan aku bagi dua, silakan engkau ambil separuhnya.”

Seorang pengusaha ulung kelas kakap seperti sahabat Abdurrahman bin ‘Auf pun menolak kedua-duanya dan mengatakan, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi hartamu, memberkahi keluargamu, namun satu saja permintaanku. Tunjukkan kepadaku di mana letak pasar.”

Ketika sahabat Abdurrahman bin ‘Auf mengetahui letak pasar maka dengan insting dan nalurinya sebagai seorang pengusaha pun berkobar. Nalurinya sebagai seorang pengusaha bersinar. Beliau datang ke pasar dengan tangan kosong. Sahabat Abdurrahman ibnu ‘Auf datang ke Madinah tanpa bekal apapun.

Namun, dengan pola pikir, dengan hati yang besar, dengan kejelian dalam memandang peluang, kejelian dalam membangun relasi dan berkomunikasi sebagai seorang pengusaha ulung, beliau yang datang ke pasar dengan tangan kosong, dengan tangan hampa pada sorea hari pulang  dengan membawa keuntungan berupa setakar susu kering dan setakar gandum. 

Sehingga tidaklah berlalu beberapa hari dari kedatangan sahabat Abdurrahman bin ‘Auf di kota Madinah kecuali beliau telah berhasil membeli emas sebesar satu biji kurma. Kemudian dengan emas tersebut dia menikahi seorang gadis di kota Madinah, membangun, mulai merintis serta merajut suksesnya kembali yang telah beliau tinggalkan di kota Mekah.

Itulah cerita tentang sahabat Abdurrahman bin ‘Auf. Salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang terkenal akan kehandalannya dalam dunia entrepreneur. Semoga sepenggal cerita tentang sahabat Abdurrahman bin ‘Auf mampu menginspirasi semua civitas akademi di Stainim, sebagai Universitas Terbaik di Sidoarjo, terutama mahasiswa dan mahasiswi Stainim. Karena salah satu tujuan Stainim adalah menyiapkan lulusan menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki akhlak mulia, inspiratif, dan berjiwa entrepreneur.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa baraakatuh
Wallahu A'lam Bishawab

Sumber :
http://stainim.ac.id/najah2/?p=detailmenu&id=27&sejarah-stainim
https://www.youtube.com/watch?v=hPkzkc6cH_s
Share on Google Plus

About Sarjana123 dot com

Saya hanya seorang mahasiswa biasa, calon sarjana yang sedang kuliah di Stainim Sidoarjo. Silakan kunjungi sosial media saya atau ingin kontak saya silakan Klik Disini

0 comments:

Post a Comment