Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Objek, Sifat dan Hukum Akad | Kabar Berita Mahasiswa Terbaru Terlengkap dan Terkini

Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Objek, Sifat dan Hukum Akad

Memang sangat berat bagi kita untuk meninggalkan kebiasaan atau tradisi pada lingkungan yang sudah terbentuk.  Kebiasaan yang sudah terlanjur masuk dalam menerapkan sistem ekonomi kapitalis.  Perlu diperhatikan kembali bahwa segala sesuatu yang dilarang Allah SWT pasti untuk menghilangkan dari berbagai kerusakan. Akan tetapi dari pelarangan tersebut akan terdapat solusi yang telah disediakan yang bisa mendatangkan maslahat atau manfaat. Konsep Murabahah dapat menjadi alternatif pengganti untuk jual beli yang dilarang.

Kata ijarah beasal dari bahasa arab yaitu yu’jiru (يُؤجِرُ) – ajara (اَجَرَ) – ijaran (إِيْجَارًا) yang berarti menyewakan. Menuru istilah ijarah atau sewa ialah akad atas sejumlah manfaat atas penggantinya.

Jadi ijarah atau sewa ialah pemakaian sebuah barang atau jasa yang memberikan guna dan yang dipergunakan tudak berkurang dari suasana semula serta terdapat batasan wakunya. Perbedaan sewa mencarter dengan jual beli antara lain dalam akad jual beli hak kepemilikan sebuah barang beralih tangan atau dipunyaai si pembeli, sedangkan akad sewa menyewa, hak kepemilikan sebuah barang tidak beralih tetapi melulu kegunaan atau guna suatu benda yang dipindahkan kepada si penyewa.

Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Rukun dan Syarat Serta Macam-macamnya



Adapun definisi ijarah menurut sejumlah ulama madzhab, yaitu inilah ini :

  • Pengertian ijarah menurut keterangan dari ulama Hanafiah merupakan : akad guna mempebolehkan kepemilikan guna yang diketahui dan dilaksanakan dengan sengaja dari sebuah zat yang dicarter dengan disertai imbalan.
  • Pengertian ijarah menurut keterangan dari ulama Malikiyah merupakan : nama untuk akad-akad guna kemanfaatan yang mempunyai sifat manusiawi dan pun untuk beberapa yang bisa dipindahkan.
  • Pengertian ijarah menurut keterangan dari ulama Sayyid Sabiq merupakan : jenis akad guna mengambil guna dengan destinasi penggantian.

Pemanfaatan yang diterima atau diambil dapat berupa pemanfaatan barang atau pun pemafaatan jasa seperti kegiatan atau tenaga. Pemanfaatan barang bias seperti menempati rumah,pemakaian kendaraan dan lain-lain.sementara pemanfaatan jasa atau tenaga bias laksana penjahit, buruh tani dan kegiatan yang dapat dipungut manfaat.

DASAR HUKUM IJARAH
Dasar hukum atau landasan ijarah dalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dasar hukum ijarah dari Al-Qur’an ialah Surat At-Thalaq ayat 6 dan Al-Qashas ayat 26, sebagaimana firman Allah SWT.

1. Surat At-Thalaq ayat 6
“ . . . kemudian andai mereka menyusukan (anak-anak)mu maka berikanlah untuk mereka upah.”

2. Surat Al-Qashash ayat 26
“ salah seorang dari kedua perempuan itu berbicara : “Ya bapakku ambillah ia sebagai prang yang bekerja (pada kita), sebab sesungguhnya orang yang sangat baik yang anda ambil guna bekerja (pada kita) merupakan orang yang powerful lagi bisa dipercaya.”
Dasar hukum ijarah dari Al-Hadits sebagaimana yang disabdakan Rasulullah :
“ berikanlah upah terhadap kegiatan sebelum kering keringatnya”

Dari sumber-sumber hukum hukum tersebut bisa disimpulkan bahwa praktek ijarah atau sewa mencarter diperbolehkan. Tetapi harus cocok dengan syariat agama islam serta tidak melenceng dari syari’at islam.

Ada sejumlah istilah dan sebutan yang sehubungan dengan ijarah, aitu antara beda Mu’jir (pemilik benda yang menerima duit sewa atas sebuah manfaat), Musta’jir (pihak yang menyewa), Ma’jur (pekerjaan yang diakadkan manfaatnya), dan ajr atau ujrah (uang sewa yang diserahkan atau diterima sebagai imbalan atas guna yang diberikan).

OBJEK IJARAH
Objek ijarah ialah berupa barang modal yang mengisi ketentuan, antara lain:
  • objek ijarah adalahmilik dan/atau dalam penguasaan perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (muajjir);
  • manfaat objek ijarah mesti bisa dinilai;
  • manfaat objek ijarah mesti dapat di berikan penyewa (musta’jir);
  • pemanfaatan objek ijarah mesti mempunyai sifat tidak dilarang secara syariah (tidak diharamkan);
  • manfaat objek ijarah mesti bisa ditentukan dengan jelas;
  • spesifikasi objek ijarah mesti ditetapkan dengan jelas, antara lain melewati identifikasi fisik, kelayakan, dan jangka masa-masa pemanfaatannya.

SIFAT DAN HUKUM AKAD IJARAH


Terdapat beberapa pendapat bertolak belakang  diantara Para ulama Fiqh mengenai sifat akad ijarah, apakah mempunyai sifat mengikat kedua belah pihak atau tidak. Ulama Hanafiah berpendirian bahwa akad ijarah mempunyai sifat mengikat, namun boleh diurungkan secara sepihak bilamana ada uzur dari di antara pihak yang berakad, laksana contohnya di antara pihak wafat atau kehilangan kecakapan beraksi hukum. Apabila salah seorang yang telah melakukan akad meninggal dunia, akad ijarah batal sebab manfaat jangan diwariskan.

Akan tetapi, beberapa jumhur ulama berpendapat bahwa akad ijarah itu mempunyai sifat mengikat, kecuali terdapat cacat atau barang tersebut tidak boleh dimanfaatkan. Jika seorang yang telah melakukan akad meninggal dunia, guna dari akad ijarah boleh diwariskan sebab termasuk harta dan kematian salah seorang pihak yang berakad tidak mengurungkan akad ijarah.


Sekian dulu ya. Semoga bermanfaat...

Ketahui juga segala hal tentang Pengertian Mudharabah, Skema, Jenis, dan Dasar Hukum Mudharabah dengan klik disini

Wallahu A'lam Bishawab

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Objek, Sifat dan Hukum Akad"

Post a Comment