Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Rukun dan Syarat Serta Macam-macamnya | Jurnal Mahasiswa STAINIM Sidoarjo Yayasan Yatim Mandiri

Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Rukun dan Syarat Serta Macam-macamnya

Kata ijarah beasal dari bahasa arab, yakni ajara (اَجَرَ) – yu’jiru (يُؤجِرُ) – ijaran (إِيْجَارًا) yang berarti menyewakan. Menuru istilah ijarah atau sewa ialah akad atas sejumlah manfaat atas penggantinya.

Jadi ijarah atau sewa ialah pemakaian sebuah barang atau jasa yang memberikan guna dan yang dipergunakan tudak berkurang dari suasana semula serta terdapat batasan wakunya. Bedanya sewa mencarter dengan jual beli merupakan, alam akad jual beli hak kepemilikan sebuah barang beralih tangan atau dipunyaai si pembeli, sedangkan akad sewa menyewa, hak kepemilikan sebuah barang tidak beralih tetapi melulu kegunaan atau guna suatu benda yang dipindahkan kepada si penyewa.

Adapun definisi ijarah menurut sejumlah ulama madzhab, yaitu inilah ini :
  • Pengertian ijarah menurut keterangan dari ulama Hanafiah merupakan : akad guna mempebolehkan kepemilikan guna yang diketahui dan dilaksanakan dengan sengaja dari sebuah zat yang dicarter dengan disertai imbalan.
  • Pengertian ijarah menurut keterangan dari ulama Malikiyah merupakan : nama untuk akad-akad guna kemanfaatan yang mempunyai sifat manusiawi dan pun untuk beberapa yang bisa dipindahkan.
  • Pengertian ijarah menurut keterangan dari ulama Sayyid Sabiq merupakan : jenis akad guna mengambil guna dengan destinasi penggantian.

Pemanfaatan yang diterima atau diambil dapat berupa pemanfaatan barang atau pun pemafaatan jasa seperti kegiatan atau tenaga. Pemanfaatan barang bias seperti menempati rumah,pemakaian kendaraan dan lain-lain.sementara pemanfaatan jasa atau tenaga bias laksana penjahit, buruh tani dan kegiatan yang dapat dipungut manfaat.

Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Rukun dan Syarat Serta Macam-macamnya


DASAR HUKUM IJARAH
Dasar hukum atau landasan ijarah dalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dasar hukum ijarah dari Al-Qur’an ialah Surat At-Thalaq ayat 6 dan Al-Qashas ayat 26, sebagaimana firman Allah SWT.

1.Surat At-Thalaq ayat 6
“ . . . kemudian andai mereka menyusukan (anak-anak)mu mka berikanlah untuk mereka upah.”

2.Surat Al-Qashash ayat 26
“ salah seorang dari kedua perempuan itu berbicara : “Ya bapakku ambillah ia sebagai prang yang bekerja (pada kita), sebab sesungguhnya orang yang sangat baik yang anda ambil guna bekerja (pada kita) merupakan orang yang powerful lagi bisa dipercaya.”

Dasar hukum ijarah dari Al-Hadits sebagaimana yang disabdakan Rasulullah :
“ berikanlah upah terhadap kegiatan sebelum kering keringatnya”

Dari sumber-sumber hukum hukum tersebut dapat disimpulkan bahwa praktek ijarah atau sewa mencarter boleh adanya. Tetapi mesti cocok dengan doktrin agama islam dan tidak melenceng dari syari’at islam.

Ada sejumlah istilah dan sebutan yang sehubungan dengan ijarah, aitu antara beda Mu’jir (pemilik benda yang menerima duit sewa atas sebuah manfaat), Musta’jir (pihak yang menyewa), Ma’jur (pekerjaan yang diakadkan manfaatnya), dan ajr atau ujrah (uang sewa yang diserahkan atau diterima sebagai imbalan atas guna yang diberikan).

OBJEK IJARAH
Objek ijarah ialah berupa barang modal yang mengisi ketentuan, antara lain:
  • objek ijarah adalahmilik dan/atau dalam penguasaan perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (muajjir);
  • manfaat objek ijarah mesti bisa dinilai;
  • manfaat objek ijarah mesti dapat di berikan penyewa (musta’jir);
  • pemanfaatan objek ijarah mesti mempunyai sifat tidak dilarang secara syariah (tidak diharamkan);
  • manfaat objek ijarah mesti bisa ditentukan dengan jelas;
  • spesifikasi objek ijarah mesti ditetapkan dengan jelas, antara lain melewati identifikasi fisik, kelayakan, dan jangka masa-masa pemanfaatannya.

SIFAT DAN HUKUM AKAD IJARAH
Para ulama Fiqh bertolak belakang pendapat mengenai sifat akad ijarah, apakah mempunyai sifat mengikat kedua belah pihak atau tidak. Ulama Hanafiah berpendirian bahwa akad ijarah mempunyai sifat mengikat, namun boleh diurungkan secara sepihak bilamana ada uzur dari di antara pihak yang berakad, laksana contohnya di antara pihak wafat atau kehilangan kecakapan beraksi hukum. Apabila salah seorang yang berakad meninggal dunia, akad ijarah batal sebab manfaat jangan diwariskan.

Akan tetapi, jumhur ulama menuliskan bahwa akad ijarah itu mempunyai sifat mengikat, kecuali terdapat cacat atau barang tersebut tidak boleh dimanfaatkan. Apabila seorang yang berakad meninggal dunia, guna dari akad ijarah boleh diwariskan sebab termasuk harta dan kematian salah seorang pihak yang berakad tidak mengurungkan akad ijarah.

RUKUN DAN SYARAT IJARAH
Dalam mengerjakan akad sewa mencarter atau ijarah, tentuna jangan meleneng dari syari’at agama. Diantaranya terdapat syarat dan rukun ijarah. Berdasarkan keterangan dari jumhur ulama, rukun ijarah terdiri dari Mu’jir, Musta’jir, Ajr, Manfaat dan Shighah (ijab qabul).

Syarat yang mesti diisi oleh mu’jir dan muata’jir yaitu laksana syarat akad lainya.
  •  Berakal.
  • Kehendak sendiri (tanpa paksaan).
  • Baligh.
  • Mengetahui secara jelas tentang guna yang diakadkan supaya tidak terjadi salah paham.
  • Serta memahami akad masa mengerjakannya atau batasan waktu.
Berdasarkan keterangan dari Jumhur ulama ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi sehubungan dengan guna atau obyek akad ijarah, yakni :
  • Manfaat yang dijadikan obyek ijarah mesti diketahui dengan tentu mulai bentuk, sifat, tempat sampai waktunya.
  • Manfaat tersebut harus diisi dalam makna yang sebenarnya.
  • Manfaat yang dikamsud mempunyai sifat mubah. Karena jangan menyewakan barang yang haram atau dilarang oleh syara’. Misalnya lokasi untuk berjudi atau maksiat dan lain-lain.


MACAM-MACAM IJARAH
1.Ijarah ‘Ala Al-Manfi’.
Yaitu ijarah yang obyek akadnya ialah manfaat atau benda.Seperti contoh, menyewakan mobil atau kendaraan, menyewakan lokasi tinggal dan lain-lain. Yang butuh diperintahkan ialah tidak boleh menjadikan obyek sebagai lokasi yang manfaatnya dilarang oleh syara’.

2.Ijarah ‘Ala Al-‘Amal ijarah.
Yaitu ijarah yang obyek akadnya ialah jasa atau pekerjaan. Contohnya ialah penahit atau jasa insinyur dalam pembangunan dn lain-lain. Dan tentunya guna yang diserahkan tidak terbit atau dilarang oleh syara’. Akad ijarah ini, berhubungan erat dengan masalah upah mengupah. Ajir dapat dipisahkan menjadi dua macam, yakni :

Ajir Khass (pekerja khusus) : pekerja atau buruh yang mengerjakan suatu kegiatan secara individual dalam masa-masa yang sudah ditentukan.Contohnya penolong rumah tangga. Menyusui anak (seperti pada zaman Rasulullah).
Ajir Musytarak : orang yang bekerja dengan profesinya dan tidak berhubungan oleh orang tertentu. Dia menemukan upah sebab profesinya, bukan penyerahan dirinya terhadap pihak lain. Contohnya insinyur atau pengacara.

PEMBATALAN DAN BERAKHIRNYA IJAROH
Ijarah tergolong akad yang lazim, yakni akad yang jangan terjadinya fasakh (pembatalan) pada di antara pihak kecuali andai ada factor yang mwajibkan adanya fasakh (pembatalan). Faktor-faktor yang mengakibatkan yerjadinya fasakh antara lain :

  • Terjadinya cacat pada barang saat diterima atau berada pada si penyewa (musta’jir) atau pun barang yang disewakan rusak. Berdasarkan keterangan dari jumhur ulama, kematian pada salah seorang yang sedang berakad tidak dapat mengurungkan ijarah, karena berpengalaman warisnya bisa menggantikan posisinya, baik sebagai mu’jir atau musta’jir.
  • Terpenuhinya guna benda atau jasa ijarah, atau pun selesainya kegiatan dan pun berakhirnya masa-masa yang sudah ditetukan.
  • objek hilang atau musnah,
  • tenggang masa-masa yang disepakati dalam akad ijarah sudah berakhir,
  • menurut keterangan dari ulama Hanafiyah, wafatnya seorang yang berakad.
  • menurut keterangan dari ulama Hanafiyah, bilamana ada uzur dari di antara pihak seperti lokasi tinggal yang disewakan disita Negara sebab bersangkutan utang yang banyak, maka akad ijarah batal. Akan tetapi, menurut keterangan dari jumhur ulama uzur yang boleh mengurungkan akad ijarah hanyalah bilamana obyeknya cacat atau guna yang dituju dalam akad tersebut hilang, laksana kebakaran dan dilanda banjir.

Sekian dulu ya. Semoga bermanfaat...

Ketahui juga segala hal tentang Pengertian Mudharabah, Skema, Jenis, dan Dasar Hukum Mudharabah dengan klik disini

Wallahu A'lam Bishawab

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ijarah – Pengertian, Dasar Hukum, Rukun dan Syarat Serta Macam-macamnya"

Post a Comment