Konsep Wakalah - Pengertian, Hukum, Rukun, dan Syarat - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO Konsep Wakalah - Pengertian, Hukum, Rukun, dan Syarat - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO

Konsep Wakalah - Pengertian, Hukum, Rukun, dan Syarat

PENGERTIAN WAKALAH
Secara makna kata Wakalah dapat berarti pencukupan (al-kifayah), perlindungan (al-hifzh), pendelegasian (al-tafwidh), atau tanggungan (al-dhamah) yang bisa diartikan juga dengan memberikan kuasa atau mewakilkan. 

Beberapa pengertian lain dari Wakalah yakni:
  • Wakalah atau wikalah adalah pendelegasian, penyerahan, atau pemberian mandat.
  • Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh seseorang yang disebut sebagai pihak pertama kepada orang lain yang disebut sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan (dalam hal ini pihak kedua) hanya melaksanakan sesuatu sebatas wewenang atau kuasa yang diberikan oleh pihak pertama, namun apabila kuasa itu telah dilaksanakan sesuai yang disyaratkan, maka semua tanggung jawab dan resiko atas dilaksanakan perintah tersebut sepenuhnya menjadi pihak pertama atau pemberi kuasa.
Pengertian, Hukum, Rukun, dan Syarat Wakalah
PANDANGAN ULAMA
Menurut beberapa pendapat dan pandangan ulama Wakalah mempunyai beberapa makna yaitu :
  • Menurut Hashbi Ash Shiddieqy, Wakalah adalah akad penyerahan kekuasaan, yang pada akad itu seseorang menunjuk orang lain sebagai penggantinya dalam bertindak (bertasharruf).
  • Menurut Sayyid Sabiq, Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada orang lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.
  • Menurut Ulama Malikiyah, Wakalah adalah tindakan seseorang mewakilkan dirinya kepada orang lain untuk melakukan tindakan-tindakan yang merupakan haknya yang tindakan itu tidak dikaitkan dengan pemberian kuasa setelah mati, sebab jika dikaitkan dengan tindakan setelah mati berarti sudah berbentuk wasiat.
  • Menurut Ulama Syafi’iah mengatakan bahwa Wakalah adalah suatu ungkapan yang mengandung suatu pendelegasian sesuatu oleh seseorang kepada orang lain supaya orang lain itu melaksanakan apa yang boleh dikuasakan atas nama pemberi kuasa.

DASAR HUKUM WAKALAH
Beberapa dasar hukum Al-Qur’an tentang wakalah, antara lain :

Al-Qur’an
• QS Al-Kahfi (18:19)
“Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.”

• QS Al-Baqarah (2:283)
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[1] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

• QS An-Nisaa (4:35)
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam[2] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

• QS Yusuf (12:55)
“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) [3]; Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Al-Hadits
Sedangkan dasar hukum Al-Hadits yang dijadikan landasan mengenai Wakalah antara lain :
  • “Bahwasanya Rasulullah mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mewakilkannya mengawini Maimunah binti Al Harits”. HR. Malik dalam al-Muwaththa’)
  • “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf)
  • Dalam kehidupan sehari-hari, Rosulullah telah mewakilkan kepada orang lain untuk berbagai urusan. Diantaranya adalah membayar hutang, mewakilkan penetapan had dan membayarnya, mewakilkan pengurusan unta, membagi kandang hewan, dan lain-lain.

Ijma’
Para ulama juga bersepakat dengan ijma’ atas diperbolehkannya Wakalah. Beberapa ulama bahkan ada yang cenderung untuk mensunahkannya dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk jenis tolong-menolong atau ta’awun atas dasar taqwa dan kebaikan. Tolong-menolong diserukan dalam Al-Qur’an dan disunahkan oleh Rasulullah.

Allah berfirman dalam QS Al-Maa-idah (5:2) : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”

RUKUN DAN SYARAT-SYARAT DALAM WAKALAH
Menurut ulama Hanafiah, rukun Wakalah itu hanya berupa ijab qabul saja. Ijab adalah pernyataan mewakilkan sesuatu dari pihak yang memberi kuasa dan qabul adalah penerimaan pendelegasian itu dari pihak yang diberi kuasa tanpa harus terkait dengan menggunakan sesuatu lafaz tertentu. Akan tetapi, jumhur ulama tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Jumhur ulama tersebut berpendapat bahwa rukun dan syarat Wakalah antara lain :

• Orang yang mewakilkan (Al-Muwakkil)
Seseoarang yang mewakilkan, pemberi kuasa, disyaratkan memiliki hak untuk bertasharruf pada bidang-bidang yang didelegasikannya. Karena itu seseorang tidak akan sah jika mewakilkan sesuatu yang bukan haknya.

Pemberi kuasa mempunyai hak atas sesuatu yang dikuasakannya, disisi lain juga dituntut supaya pemberi kuasa itu sudah cakap bertindak atau mukallaf. Tidak diperbolehkan seorang pemberi kuasa itu anak-anak dan masih belum dewasa serta cukup akal. Pemberi kuasa juga tidak diperbolehkan seorang yang gila. 

Menurut pandangan Imam Syafi’I anak-anak yang sudah mumayyiz tidak berhak memberikan kuasa atau mewakilkan sesuatu kepada orang lain secara mutlak. 

Namun madzhab Hambali membolehkan pemberian kuasa dari seorang anak yang sudah mumayyiz pada bidang-bidang yang akan dapat mendatangkan manfaat baginya.

• Orang yang diwakilkan. (Al-Wakil)
Penerima kuasa pun perlu mempunyai kecakapan akan suatu aturan-aturan yang mengatur proses akad wakalah ini. Sehingga cakap hukum menjadi salah satu syarat bagi pihak yng diwakilkan.

Seseorang yang menerima kuasa ini, perlu mempunyai kemampuan untuk menjalankan amanahnya yang diberikan oleh pemberi kuasa. ini berarti bahwa ia tidak diwajibkan menjamin sesuatu yang diluar batas, kecuali atas kesengajaanya,

• Obyek yang diwakilkan.
Obyek adalah sesuatu yang bisa diwakilkan kepada orang lain, seperti pemberian upah, jual beli, dan sejenisnya yang memang berada dalam kekuasaan pihak yang memberikan kuasa.

Para ulama berpendapat bahwa tidak boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah badaniyah, misalnya shalat, dan boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah maliyah misalnya membayar zakat, sedekah, dan sejenisnya. Selain itu hal-hal yang diwakilkan itu tidak ada campur tangan pihak yang diwakilkan.

Tidak semua hal dapat diwakilkan kepada orang lain. Sehingga obyek yang akan diwakilkan pun tidak diperbolehkan bila melanggar Syari’ah Islam.

Shighat atau ijab dan qabul.
Dirumuskannya suatu perjanjian antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa. Dari mulai aturan memulai akad wakalah ini, proses akad, serta aturan yang mengatur berakhirnya akad wakalah ini.

Isi dari perjanjian ini berupa pendelegasian dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa

Tugas penerima kuasa oleh pemberi kuasa perlu dijelaskan untuk dan atas pemberi kuasa melakukan sesuatu tindakan tertentu.

APLIKASI WAKALAH DALAM INSTITUSI KEUANGAN
Salah satu aplikasi Wakalah yang dapat kita jumpai sehari-hari adalah transfer uang. Proses transfer uang merupakan proses yang menggunakan konsep akad Wakalah, dimana prosesnya ini diawali dengan adanya permintaan Al-Muwakkil terhadap bank sebagai Al-Wakil untuk melakukan transfer sejumlah uang kepada rekening orang lain, 

BERAKHIRNYA WAKALAH
Penyebab Wakalah menjadi batal atau berakhir antara lain :
  • Apabila salah satu pihak yang berakad Wakalah itu menjadi gila.
  • Apabila maksud yang terkandung dalam akad Wakalah itu sudah selesai pelaksanaannya atau dihentikan.
  • Akad Wakalah diputuskan oleh salah satu pihak yang berWakalah baik dari pihak pemberi kuasa ataupun pihak yang menerima kuasa.
  • Hilangnya hak pemberi kuasa atau sesuatu obyek yang dikuasakan.

Sekian dulu ya. Semoga bermanfaat...Jangan lupa baca juga Pengertian, Rukun dan Syarat Murabahah

Wallahu A'lam Bishawab


Share on Google Plus

About Sarjana123 dot com

Saya hanya seorang mahasiswa biasa, calon sarjana yang sedang kuliah di Stainim Sidoarjo. Silakan kunjungi sosial media saya atau ingin kontak saya silakan Klik Disini

0 comments:

Post a Comment