Rukun Dan Syarat-Syarat Dalam Wakalah | Jurnal Mahasiswa STAINIM Sidoarjo Yayasan Yatim Mandiri

Rukun Dan Syarat-Syarat Dalam Wakalah


Menurut ulama Hanafiah, rukun Wakalah itu hanya berupa ijab qabul saja. Ijab adalah pernyataan mewakilkan sesuatu dari pihak yang memberi kuasa dan qabul adalah penerimaan pendelegasian itu dari pihak yang diberi kuasa tanpa harus terkait dengan menggunakan sesuatu lafaz tertentu. Akan tetapi, beberapa ulama berbeda pendapat dengan pandangan tersebut. Ulama tersebut berpendapat bahwa rukun dan syarat Wakalah antara lain :



• Orang yang mewakilkan (Al-Muwakkil)
Seseoarang yang mewakilkan, pemberi kuasa, disyaratkan memiliki hak untuk bertasharruf pada bidang-bidang yang didelegasikannya. Karena itu seseorang tidak akan sah jika mewakilkan sesuatu yang bukan haknya.

Pemberi kuasa memiliki hak atas sesuatu yang dikuasakannya, disatu sisi juga dituntut supaya pemberi kuasa mempunyai kecakapan dalam bertindak atau mukallaf. Tidak diperbolehkan seorang pemberi kuasa itu anak-anak dan masih belum dewasa serta cukup akal. Pemberi kuasa juga tidak diperbolehkan seorang yang gila. 

Menurut pandangan ulama madzhab Imam Syafi’I, anak-anak yang sudah mumayyiz tidak mempunyai hak untuk memberikan kuasa atau mewakilkan kuasa sesuatu kepada orang lain secara mutlak. 

Namun madzhab Hambali membolehkan pemberian kuasa dari seorang anak yang sudah mumayyiz pada bidang-bidang yang akan dapat mendatangkan manfaat baginya.

• Orang yang diwakilkan. (Al-Wakil)
Penerima kuasa juga perlu memiliki kecakapan terhadap suatu peraturan-peraturan yang berkaitan dengan proses akad wakalah ini. Sehingga cakap hukum menjadi salah satu syarat bagi pihak yng diwakilkan.

Seseorang yang menerima kuasa ini, perlu mempunyai kemampuan untuk menjalankan amanahnya yang diberikan oleh pemberi kuasa. ini berarti bahwa ia tidak diwajibkan menjamin sesuatu yang diluar batas, kecuali atas kesengajaanya,

• Obyek yang diwakilkan
Obyek merupakan sesuatu yang dapat diwakilkan kepada orang lain, seperti contohnya pemberian upah, jual beli, dan semacamnya yang memang berada dalam kekuasaan pihak yang memberikan kuasa.

Para ulama berpendapat bahwa tidak boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah badaniyah, misalnya shalat, dan boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah maliyah misalnya membayar zakat, sedekah, dan sejenisnya. Pihak yang diwakilkan juga tidak boleh mencampuri hal-hal yang akan diwakilkan tersebut.

Selain itu, hal-hal yang akan diwakilkan itu harus tidak ada campur tangan dari pihak yang diwakilkan.

Tidak semua hal dapat diwakilkan kepada orang lain. Sehingga obyek yang akan diwakilkan pun tidak diperbolehkan bila melanggar Syari’ah Islam.

• Shighat atau ijab dan qabul
Dirumuskannya suatu perjanjian antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa. Mulai dari peraturan yang memulai akad wakalah ini, proses akad, hingga peraturan-peraturan yang mengatur berakhirnya akad wakalah ini.

Isi yang terdapat dalam perjanjian ini berupa pendelegasian dari yang memberi kuasa kepada penerima kuasa

Berakhirnya Wakalah
Penyebab Wakalah menjadi batal atau berakhir antara lain :
  • Apabila salah satu pihak yang melakukan akad Wakalah itu telah menjadi gila.
  • Jika maksud yang terkandung dalam akad Wakalah itu sudah selesai pelaksanaannya atau dihentikan.
  • Akad Wakalah diputuskan oleh salah satu pihak yang berWakalah baik dari pihak pemberi kuasa ataupun pihak yang menerima kuasa.
  • Hilangnya hak pemberi kuasa atau sesuatu obyek yang dikuasakan.

Aplikasi Wakalah Dalam Institusi Keuangan Syariah
Salah satu aplikasi Wakalah yang dapat kita jumpai sehari-hari adalah transfer uang. Proses transfer uang adalah proses aktivitas yang menggunakan konsep akad Wakalah, dimana prosesnya ini diawali dengan adanya permintaan Al-Muwakkil terhadap bank sebagai Al-Wakil untuk melakukan transfer sejumlah uang kepada rekening orang lain, 

Wallahu A'lam Bishawab

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rukun Dan Syarat-Syarat Dalam Wakalah"

Post a Comment