Fiqh/Fiqih/Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan Manfaat Mempelajarinya - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO Fiqh/Fiqih/Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan Manfaat Mempelajarinya - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO

Fiqh/Fiqih/Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan Manfaat Mempelajarinya

PENGERTIAN FIQIH MUAMALAH KONTEMPORER
Kata muamalah berasal dari bahasa Arab. Secara etimologi berarti sama seperti al-mufa’alah yang artinya saling berbuat. Kata tersebut menggambarkan tentang suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain atau dengan beberapa orang guna memenuhi keperluan masing-masing.

Sedangkan kata fiqih muamalat secara terminologi mempunyai pengertian sebagai hukum atau aturan yang berkaitan dengan tindakan dari hukum manusia tentang perkara keduniaan.

Fiqih muamalah adalah pengetahuan tentang transaksi atau kegiatan yang sesuai hukum-hukum syariat, tentang perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang didapatkan dari sumber-sumber hukum Islam.

Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan manfaat mempelajarinya

Menurut kamus bahasa Indonesia, kontemporer mempunyai arti yakni semasa atau sewaktu, di masa kini  atau dewasa ini. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa fiqih muamalah kontemporer sendiri sangat berkaitan dengan perkembangan pola pikir fiqh muamalah sekarang ini.

Latar belakang  adanya isu mengenai fiqih kontemporer adalah akibat adanya modernisasi yang terdapat di sebagian besar dari negara-negara Islam. Melalui arus modernisasi yang menyebabkan munculnya beberapa perubahan pada tatanan sosial umat islam, entah itu berkaitan dengan bidang politik, sosial budaya bahkan ekonomi.

Dengan pengertian lain dapat dikatakan bahwa fiqih muamalah kontemporer merupakan segala aturan Allah SWT yang harus ditaati oleh umat Islam yang telah mengatur hubungan antara manusia bersama manusia lainnya dalam kaitannya dengan harta benda yang berbentuk segala jenis transaksi yang bersifat modern.

RUANG LINGKUP MUAMALAT KONTEMPORER
a. Persoalan transaksi bisnis kontemporer yang belum dikenal zaman klasik. 
Lingkup ini membahas mengenai transaksi yang baru muncul pada saat ini. Seperti saham, reksadana, uang kertas, Obilgasi, Asuransi, MLM, dll. 

Salah satu contohnya adalah asuransi. Asuransi adalah pertanggungan atau perjanjian yang terjadi antara dua pihak, pihak yang satu berkewajiban untuk membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran. Jika terjadi sesuatu yang menimpa dirinya atau barang miliknya yang diasuransikan sesuai dengan perjanjian yang dibuatnya. 

Pada zaman klasik, asuransi ini belum ada, meskipun asuransi dikiaskan dengan kisah ikhtiar mengikat unta sebelum pergi meninggalkannya. Asuransi ini dapat diperbolehkan apabila memenuhi syarat-syarat hukum syariat dalam Islam

b. Transaksi bisnis yang berubah karena adanya perkembangan atau perubahan kondisi, situasi, dan tradisi/kebiasaan. 
Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan cepat  dengan menghadirkan berbagai fasilitas dengan berbagai kemudahannya begitu hal nya dalam bisnis. Misalnya penerimaan barang dalam akad jual beli, transaksi e-bussiness, transaksi sms

c. Transaksi Bisnis Kontemporer yang menggunakan nama baru 
Meskipun menggunakan nama baru akan tetapi subtansinya masih seperti yang ada zaman klasik. Contohnya bunga bank yang sejatinya adalah sama dengan riba, Jual beli Valuta Asing. Meskipun Riba telah berganti nama yang “lebih indah” dengan sebutan Bunga, namun pada substansinya tetaplah sama sehingga hukum bunga sama dengan riba yang telah jelas keharamannya dalam al-Qur’an. 

d. Transaksi bisnis modern yang menggunakan beberapa akad secara berbilang, 
Contohnya seperti IMBT, Murabahah Lil Amiri Bi Syira. Dalam lingkup ini membahas bahwa pada masa Kontemporer terdapat beberapa akad yang dimodifikasikan dalam suatu transaksi bisnis. 

Berikut ini adalah beberapa modifikasi akad Klasik yang terjadi pada Masa Kontemporer:
a. Hak intifa’ (memanfaatkan), contohnya Wadhi’ah yad Dhamanah
b. Uang Administrasi, contohnya Qardhul Hasan
c. Ujrah (fee), contohnya L/C, transfer
d. Kredit, contohnya Murabahah
e. Muazzi (Paralel) + Kredit (Muajjal / Taqsith), contohnya Salam
f. Jaminan (Rahn + Kafalah), contohnya Mudharabah
g. Perubahan sifat akad, contohnya Wadi’ah (awalnya bersifat tidak mengikat menjadi mengikat)
h. Janji (wa’ad), contohnya Ijarah Mutahiya bi Tamlik
i. Wakalah

SUMBER HUKUM FIQH MUAMALAH
Sesuai dengan pengertian dan definisi di atas bahwa fiqih adalah pengetahuan tentang hukum syariah islamiyah yang berhubungan dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil-dalil terperinci.

Maka sumber dari fiqih muamalah tentunya berasal dari sumber hukum syariah islamiyah diantaranya adalah:

a. Al Qur’an 
Al Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril, dibacakan secara mutawatir yang merupakan kumpulan wahyu Allah untuk menjadi petunjuk bagi seluruh umat di dunia. 

Segala sesuatu yang berhubungan dengan istinbath hukum fiqh muamalah haruslah sesuai dengan ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an, karena memang sumber hukum utama dan pertama bagi umat muslim adalah Al-Qur’annul Karim. 

Allah berfirman dalam Qs. Hud: 84 “Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” ٍ Sesungguhnya Al Qur’an dan sunnah tidak mengatur perilaku ekonomi kecuali hal-hal yang bersifat prinsip, misalnya tentang riba ataupun pelarangan melakukan perbuatan curang dalam berniaga. 

Dalam Qs. Ar Rum: 39, Allah SWT berfirman “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)” 

b. Sunnah
Sunnah merupakan sumber istinbath hukum kedua setelah Al-Qur’an. Maka wajib hukumnya penggalian sumber hukum yang mendasari fiqih muamalah harus juga tidak boleh menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW. 

Inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah, karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan, Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya. 

Dan hadis riwayat Muslim, yang artinya “Jabir berkata bahwa Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian Beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama”. (HR.Muslim). 

c. Qiyas 
Qiyas dipergunakan dalam menetapkan hukum suatu masalah, jika tidak ada ketetapannya dalam al-Qur’an dan as-sunnah. Menurut istilah, qiyas adalah mengeluarkan (mengambil) suatu hukum yang serupa dari hukum yang telah disebutkan (belum mempunyai ketetapan) kepada hukum yang telah ada/telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-sunnah, disebabkan sama ‘illat antara keduanya. 

Menurut jumhur ulama’, qiyas adalah hukum syara’ yang dapat menjadi hujjah dalam menetapkan suatu hukum dengan alasan firman Allah dalam Qs. Al-Hasyr: 2, ”Maka menjadi pandangan bagi orang-orang yang berpikir”. 

Kalimat yang menunjukkan qiyas dalam ayat ini adalah “menjadi pandangan”, ini berarti membandingkan antara hukum yang tidak disebutkan dengan hukum yang telah ada ketentuannya. 

d. Ijma’ 
Ijma’ merupakan dasar-dasar hukum syara’ yang menjadi sumber hukum dalam menetapkan hukum suatu masalah, ijma’ (kesepakatan para ulama’) juga sering dipergunakan sebagai dasar hukum keempat. 

e. Ijtihad 
Ijtihad berarti bersungguh-sungguh, mencurahkan pemikiran, menghabiskan kesanggupan. Artinya mencurahan kesanggupan yang ada dalam membahas (menyelidiki) suatu masalah untuk mendapatkan suatu hukum yang sulit  bertitik tolak kepada Al Qur’an dan as-Sunnah

HUBUNGAN FIQIH MUAMALAH DENGAN EKONOMI ISLAM
Muamalah adalah medan hidup yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan manusia sejak zaman klasik, bahkan zaman purbakala. Setiap orang membutuhkan harta yang ada di tangan orang lain. 

Hal ini membuat manusia berusaha membuat beragam cara pertukaran, bermula dengan kebiasaan melakukan tukar menukar barang yang disebut barter, berkembang menjadi sebuah sistem jual-beli yang kompleks dan multidimensional. 

Perkembangan itu terjadi karena semua pihak yang terlibat berasal dari latar belakang yang berbeda, dengan karakter dan pola pemikiran yang bermacam-macam, dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang tidak sama. Baik itu pihak pembeli atau penyewa, penjual atau pemberi sewa, yang berutang dan berpiutang, pemberi hadiah atau yang diberi, saksi, sekretaris atau juru tulis, hingga calo atau broker. 

Semuanya menjadi majemuk dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang sosial dan pendidikan yang variatif. Selain itu, transaksi muamalah juga semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. 

Sarana atau media dan fasilitator dalam melakukan transaksi juga kian hari kian canggih. Sementara komoditi yang diikat dalam satu transaksi juga semakin bercorak-ragam, mengikuti kebutuhan umat manusia yang semakin konsumtif dan semakin terikat tuntutan zaman yang juga kian berkembang.

Oleh sebab itu, muamalah sangat erat dengan perekonomian Islam ini akan tampak bila kita melihat salah satu bagiannya, yaitu dunia bisnis perniagaan dan khususnya level menengah ke atas. Seorang yang memasuki dunia perbisnisan ini membutuhkan kepekaan yang tinggi, feeling yang kuat dan keterampilan yang matang serta pengetahuan yang komplit terhadap berbagai epistimologi terkait, seperti ilmu manajemen, akuntansi, perdagangan, bahkan perbankan dan sejenisnya. 

Atau berbagai ilmu yang secara tidak langsung juga dibutuhkan dalam dunia perniagaan modern, seperti komunikasi, informatika, operasi komputer, dan lain-lain. Itu dalam standar kebutuhan businessman (orang yang berwirausaha) secara umum.

Bagi seorang muslim, dibutuhkan syarat dan prasyarat yang lebih banyak untuk menjadi wirausahawan dan pengelola modal yang berhasil, karena seorang muslim selalu terikat. Selain dengan kode etik ilmu perdagangan secara umum–dengan aturan dan syariat Islam dengan hukum-hukumnya yang komprehensif. Oleh sebab itu, tidak selayaknya seorang muslim memasuki dunia bisnis dengan pengetahuan kosong terhadap ajaran syariat dalam soal jual beli. Yang demikian itu merupakan sasaran empuk ambisi setan pada diri manusia untuk menjerumuskan seorang muslim dalam kehinaan.

Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan manfaat mempelajarinya

TUJUAN MEMPELAJARI FIQH MUAMALAH 
  1. Sebagai ketaatan kepada syariah Allah Swt. Menurut Husein Shahhatah, dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami dan mengamalkan muamalah (ekonomi Islam) sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari.
  2. Mewujudkan integritas seorang muslim yang kaffah, sehingga Islamnya tidak lagi persial, karena Islam bukan saja ibadah dan munakahat, tetapi juga aspek-aspek lainnya, terutama ekonomi. Bila umat Islam masih bergelut dan mengamalkan sistem ekonomi ribawi dalam berbagai kegiatan ekonomi, berarti keIslamannya belum kaffah, sebab ajaran ekonomi syariah diabaikannya. 
  3. Menerapkan dan mengamalkan ekonomi syariah baik dalam mencari nafkah, berdagang atau melalui bank syariah, asuransi syari’ah, reksadana syari’ah, pegadaian syari’ah,  atau BMT, mendapatkan keuntungan duniawi dan ukhrawi. Keuntungan duniawi berupa keuntungan bagi hasil, keuntungan ukhrawi adalah terbebasnya dari unsur riba yang diharamkan. Selain itu seorang muslim yang mengamalkan ekonomi syariah, mendapatkan pahala, karena telah mengamalkan ajaran Islam dan meninggalkan ribawi. 
  4. Praktek ekonominya berdasarkan syariah Islam bernilai ibadah, karena telah mengamalkan syari’ah Allah SWT. 
  5. Mengamalkan ekonomi syariah melalui lembaga bank syariah, Asuransi atau BMT, berarti mendukung kemajuan lembaga ekonomi umat Islam sendiri, berarti ’izzul Islam wal muslimin. 
  6. Mengamalkan ekonomi syariah dengan membuka tabungan, deposito atau menjadi nasabah lembaga keuangan syariah seperti bank syariah dan asuransi Syari’ah, berarti mendukung upaya pemberdayaan ekonomi umat Islam itu sendiri, sebab dana  yang terkumpul di lembaga keuangan syariah itu dapat digunakan umat Islam itu sendiri untuk mengembangkan usaha-usaha kaum muslimin. 
  7. Mengamalkan ekonomi syariah berarti mendukung gerakan amar ma’ruf nahi munkar, sebab dana yang terkumpul tersebut hanya boleh dimanfaatkan untuk usaha-usaha atau proyek-proyek halal. Kedelapan : mengamalkan ajaran ekonomi syariah akan dapat meningkatkan kesejahteraan umat dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
(Baca Juga : 11 Tips Menghadapi Ujian Semester Kuliah)

Wallahu A'lam Bishawab

Share on Google Plus

About Sarjana123 dot com

Saya hanya seorang mahasiswa biasa, calon sarjana yang sedang kuliah di Stainim Sidoarjo. Silakan kunjungi sosial media saya atau ingin kontak saya silakan Klik Disini

0 comments:

Post a Comment