Sistem Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Pada Masa Era Al-Khulafa Ar-Rasyidin - Khalifah Umar bin Khattab - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO Sistem Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Pada Masa Era Al-Khulafa Ar-Rasyidin - Khalifah Umar bin Khattab - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO

Sistem Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Pada Masa Era Al-Khulafa Ar-Rasyidin - Khalifah Umar bin Khattab

Assalamu’alaikum dulur Sarjana123.com....

Piye Kabare dulur kabeh ? Sik semangat kuliah toh... ??

Pada kesempatan kali ini, kami akan meneruskan artikel Sistem Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Pada Masa Era Al-Khulafa Ar-Rasyidin. Kalau belum baca artikel sebelumnya bisa baca Sistem Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Pada Masa Era Al-Khulafa Ar-Rasyidin - Khalifah Abu Bakar Siddiq

Oh iya lur...sekedar informasi aja. Kalau pengampu dari mata kuliah ini itu adalah Bu Ilmi lur. Dosen yang sangat bersahaja dan.... hmm... baik sekali lah orangnya lur...Semoga Guru Dosen yang satu ini selalu diberikan kesehatan dan keberkahan atas ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke kami lur... 

Sistem Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Pada Masa Era Al-Khulafa Ar-Rasyidin – Khalifah Umar bin Khattab

Pada artikel berikutnya kami akan mengulas profil dosen yang satu ini lur. Tunggu aja lur... So, pantengin terus blog Sarjana123.com

Yuk...lanjut....

Kebijakan Fiskal pada Masa Umar bin Khattab (584-644M)

Ketika Umar bin Khattab memimpin pemerintahan islam di Madinah, Khalifah Umar menaruh perhatian yang cukup besar pada sektor pertanian. Dalam sektor pertanian, pemerintahan Umar bin Khattab banyak melakukan pembangunan infrastruktur pertanian seperti waduk, kanal-kanal dan ledeng agar produktifitas di sektor pertanian semakin meningkat.

Pada sektor perdagangan khalifah Umar bin Khattab melakukan perubahan kebijakan, dimana pada waktu itu pertama kalinya diterapkan tarif bea cukai untuk barang impor dan ekspor. 

Dalam ilmu ekonomi islam, hal ini dikenal dengan Usyr atau biaya yang dikenakan atas barang-barang dagangan yang masuk kenegara islam, atau datang dari negara islam itu sendiri. Pada saat itu usyr hanya diwajibkan pada barang impor, kebijakan tarif bea cukai ini juga hanya dikenakan pada sektor swasta yang dimilik oleh kafir dzimmi. 

Sedangkan untuk pedagang muslim tidak dikenakan Usyr. Karena mereka sudah membayar zakat untuk jenis barang dagangan. Untuk pedagang berstatus kafir harbi kebijakan ini juga tidak dikenakan, karena keamanan terhadap mereka tidak ditanggung oleh pemerintah.

Disamping kedua kebijakan tersebut, ketika persoalan kewajiban membayar zakat telah selesai pada akhir kepemimpinan Abu Bakkar Siddiq, khalifah Umar bin Khattab kemudian melakukan perubahan regulasi zakat dengan melakukan perluasan baziz zakat. 

Diantaranya zakat perdagangan, kuda dan madu. Sebelum melakukan kebijakan ini, khalifah Umar bin Khattab terlebih dahulu membuat tiga prinsip dasar dalam mengelola kas negara yang termaktub dalam pidato kenegaraan yang  pertama ketika ia diangkat menjadi khalifah.
“Wahai rakyatku, sesungguhnya hak seseorang atas sesuatu tidak perlu diperhatikan. Aku tidak menemukan cara untuk harta ini (kas negara) dan menjadikan kemaslahatan kecuali dengan 3 cara; yaitu [1] diambil dengan benar. [2] diberikan sesuatu dengan haknya, dan [3] kemudian mencegahnya dari kebatilan.”

Hal ini bisa kita simpulkan bahwa pada masa khalifah Umar bin Khattab, perekonomian negara Islam telah mengalami kemajuan pesat. Sosok khalifah Umar bin Khattab yang cerdas menjadi salah satu faktor penyebab peradaban islam semakin maju pesat. Sehingga ia juga dijuluki reformis islam, khususnya dalam kebijakan ekonomi.

Dergulasi yang khalifah Umar bin Khattab laksanakan serta perubahan prinsip-prinsip kepemimpinan yang cukup signifikan telah mengakibatkan semakin besarnya penerimaan negara dari hasil kebijakan baru maupun pengembangan dari jenis penerimaan yang telah ada sebelumnya. 

Apabila dikelompokan penerimaan Baitul Maal pada masa Umar terdiri atas lima pos besar, yakni; zakat, 1/5 rampasan perang, kharaj, bea cukai, dan jizyah.

Salah satu kebijakan Umar yang cukup berbeda dengan pemimpn Islam sebelumnya adalah penerapan sistem anggaran surplus, dimana ia tidak serta merta  membagikan seluruh pendapatan negara untuk dibelanjakan, namun disimpan sebagai tabungan pemerintah.

Selain itu, kontribusi khalifah Umar bin Khattab yang cukup besar adalah pendirian institusi fiskal yang permanen dan juga melakukan kebijakan desentraliasasi kebijakan, khususnya kebijakan fiskal.

Pada saat waktu itu, pendirian Baitul Maal hanya dilakukan di ibukota negara dan propinsi. Selanjutnya, untuk pertama kalinya juga didirikan kantor resmi untuk mengurusi pembayaran gaji pegawai negeri yang disebut Al-Divan. Pada saat itu juga untuk pertama kalinya  pemerintahan Islam melakukan sensus penduduk. 

Dari realitas perekonomian Pemerintahan Islam mulai dari Muhammad SAW hingga berakhirnya masa khalifah yang empat (The Right Guided Successors), hanya pada masa khalifah Umar bin Khattab inilah konjungtur kemajuan perekonomian dicapai. khalifah Umar bin Khattab memimpin selama 10 tahun 6 bulan 5 hari. Ia meninggal pada usia 63 tahun.

Gimana lur cerita diatas ? Sudah semakin paham kah mengenai kebijakan fiskal pada jaman Khalifah Umar Bin Khattab ?

Kalau ada pertanyaan, Silakan sampaikan di kolom komentar ya lur...

Oh iya....Bagi kamu arek-arek Surabaya yang pengen kuliah, Kuliah aja di Salah satu perguruan tinggi terbaik di Surabaya, Stainim Sidoarjo. Langsung aja kontak admin Kampusnya ya lur...

Sampai ketemu di Artikel Berikutnya....

Wallahu A'lam Bishawab

Sumber : 
Komparasi Fiskal Antara Ekonomi Moderen Dengan Ekonomi Islam, Tinjauan Teori dan Sistem. Penulis Muhammad Ma’ruf, Skripsi, Fakultas Ekonomi Univesitas Lampung 2004.

Share on Google Plus

About Sarjana123 dot com

Saya hanya seorang mahasiswa biasa, calon sarjana yang sedang kuliah di Stainim Sidoarjo. Silakan kunjungi sosial media saya atau ingin kontak saya silakan Klik Disini

0 comments:

Post a Comment