Strategi Andal dan Jitu Marketing Ala Nabi Muhammad SAW - Bagian 1 - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO Strategi Andal dan Jitu Marketing Ala Nabi Muhammad SAW - Bagian 1 - MAHASISWA CALON SARJANA EKONOMI SYARIAH STAINIM SIDOARJO

Strategi Andal dan Jitu Marketing Ala Nabi Muhammad SAW - Bagian 1

Marketing dalam bisnis adalah sebuah konsep yang dimunculkan untuk menghasilkan sebuah penjualan atau lebih jauh diharapkan dapat mendatangkan keuntungan untuk perusahaan ataupun individu. 

Dari mulai konsep yang sederhana atau lebih sering disebut marketing tradisional hingga konsep yang up to date atau dikenal dengan marketing modern. Marketing modern berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Semakin sulitnya menjual sebuah produk atau jasa dikarenakan semakin tingginya persaingan. 

Atau semakin banyaknya pesaing yang berkecimpung dalam bidang usaha yang sama mendorong para praktisi dan akademisi yang berkecimpung dalam dunia marketing, baik secara langsung ataupun tidak langsung melakukan caracara yang diharapkan akan dapat mendukung konsep marketing yang mereka gunakan sehingga penjualan yang menjadi tujuan utama mereka dapat tercapai.

Namun, apa jadinya apabila hasil yang diharapkan tidak juga muncul? Padahal telah banyak konsep-konsep marketing yang digunakan. Dalam menghadapi keadaan di atas, banyak kalangan tidak berputus asa dan terus menerus menggali pengetahuan, sehingga pada akhirnya muncul solusi bagi permasalahan mereka. 

Strategi Andal dan Jitu Marketing Ala Nabi Muhammad SAW

Ada pula kalangan yang kemudian menyerah dan beralih ke bidang yang lain. Tapi tidak sedikit yang kemudian memilih menggunakan ‘jalan pintas’ untuk mencapai cita-cita mereka, dengan mendobrak dinding etika dalam berbisnis.

Marketing digunakan untuk mendapatkan uang. Paradigma tersebut menghasilkan marketer-marketer yang hanya memikirkan hasil akhir berupa materi, sehingga tidak lagi memandang pentingnya etika dalam berbisnis. Saling menjatuhkan, menjilat ke atas dan menginjak ke bawah, hingga melakukan kebohongan seakan-akan telah disahkan sebagai salah satu bagian dari strategi marketing. 

(Baca Juga :  Menjadi Pengusaha Sukses)

Komunikasi yang disampaikan dalam program promosi sebuah produk yang membesar-besarkan produk secara berlebihan yang sebenarnya tidak mencerminkan keadaan produk sesungguhnya. Sehingga menipu konsumen merupakan salah satu contoh yang banyak dijumpai. 

Pergeseran pola pemasaran dari pola tradisional ke pola ‘baru’ atau yang di klaim sebagai marketing modern semakin mengecikan nilai etika dalam berbisnis. 

Dalam bisnis islami, keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, kitabkitab-Nya, malaikat-Nya, hari akhirat, dan qadar baik dan buruk menempati posisi yang sangat sentral dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia. Semua itu mengerucut apa yang disebut dengan “agama Islam”. 

Agama Islam mengajarkan totalitas dalam hidup manusia, bahwa apa yang dilakukan manusia tidak lepas dari dua hal; taat atau maksiat. Hal ini berarti, segala aktivitas hidup yang kita jalani selama diniatkan untuk mencari ridha Allah adalah bernilai ibadah. 

Pengertian ibadah tidak terbentur pada hal-hal yang bersangkut pada masalah ritual semata, seperti shalat, zakat, puasa, dzikir, doa, dan pergi haji. Tetapi pengertiannya meluas. Makan dan minum adalah ibadah. Istirahat adalah ibadah. Belajar adalah ibadah. Bekerja adalah ibadah. 

Dan balasan bagi orang yang suka beribadah adalah mendapat pahala dari Allah, yaitu surga-Nya. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa apa yang dilakukan seorang Muslim selama hidup di dunia ini, akan mendapat balasannya di akhirat nanti. Tentu saja, semua itu dilakukan dengan dua syarat, ikhlas karena Allah dan dilakukan dengan cara yang benar. 

Artinya, dunia ini bukan tempat persinggahan terakhir bagi manusia. Dunia ini adalah “ladang” dan manusia adalah “petani” yang menggarap “ladang” itu, hingga kelak di akhirat nanti, “ladang” akan disemai oleh sang “petani”. Dalam keadaan itu, Allah telah menurunkan perundang-undangan-Nya yang disampaikan lewat lisan dan tingkah laku Nabi-Nya.

Nabi Muhammad saw. dari sejak kecil sudah dididik untuk hidup mandiri dan berwirausaha. Saat itu, beliau biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’ad dan juga di makkah dengan imbalan uang beberapa dinar. Padahal beliau hidup ditengah keluarga yang berkecukupan. 

Keluarga ayahnya adalah pembesar suku Quraisy. Namun beliau telah menunjukkan kepada
kita karakter kepemimpinan yang telah dibina sejak kecil. Pada usia dua puluh lima tahun, beliau mulai berbisnis hingga ke mancanegara. 

Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan beliau, kredibilitas dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke Syam untuk menjalankan barang dagangannya. 

Dia siap memberikan imbalan jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang yang lain. Beliau menerima tawaran ini. Maka beliau berangkat ke Syam
(Syiria dan Libanon).

Sebagai seorang mahasiswa Ekonomi syariah yang menempuh studi di Stainim Sidoarjo sudah seharusnya kita meneladani Akhlak Muhammad yang mulia dan terpuji serta jujur dalam berbisnis, membuat namanya terkenal di seantero jazirah Arab. Hal ini membuat Khadijah terpikat padanya. Akhirnya Khadijah pun menikah dengan Muhammad al-Amin.

Muhammad sudah menciptakan brand image sebelum menjadi seorang Nabi. Bahwa beliau adalah seorang yang berakhlak mulia, jujur lagi terpercaya. Saat imej orang sudah terbangun dengan positif, maka pada saat berbisnis pun orang percaya pada kita.

Nanti disambung lagi ya...ke bagian 2

Wallahu A'lam Bishawab

Sumber:
Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo. Marketing Muhammad. Madani Prima

Share on Google Plus

About Sarjana123 dot com

Saya hanya seorang mahasiswa biasa, calon sarjana yang sedang kuliah di Stainim Sidoarjo. Silakan kunjungi sosial media saya atau ingin kontak saya silakan Klik Disini

0 comments:

Post a Comment