Fiqh/Fiqih/Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan Manfaat Mempelajarinya (Bagian 3) | Jurnal Mahasiswa STAINIM Sidoarjo Yayasan Yatim Mandiri

Fiqh/Fiqih/Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan Manfaat Mempelajarinya (Bagian 3)

HUBUNGAN FIQIH MUAMALAH DENGAN EKONOMI ISLAM
Muamalah merupakan medan hidup yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan manusia sejak zaman klasik, bahkan zaman purbakala. Hal ini membuat manusia berusaha membuat pelbagai teknik pertukaran, bermula dengan kebiasaan melakukan tukar menukar barang yang disebut barter, berkembang menjadi sebuah sistem jual-beli yang kompleks dan multidimensional. 


Perkembangan itu terjadi dikarenakan semua pihak yang terlibat berasal dari latar belakang yang berbeda, dengan karakter dan pola pemikiran yang bermacam-macam, dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang tidak sama. Baik itu pihak pembeli atau penyewa, penjual atau pemberi sewa, yang berutang dan berpiutang, pemberi hadiah atau yang diberi, saksi, sekretaris atau juru tulis, hingga calo atau broker. 


Semuanya menjadi majemuk dari sekian tidak sedikit kalangan dengan sekian tidak sedikit latar belakang sosial dan pendidikan yang variatif. Di samping itu, transaksi muamalah juga semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. 

Sarana atau media dan fasilitator dalam menggarap transaksi juga kian hari kian canggih. Sementara itu komoditi yang diikat dalam satu transaksi juga semakin beraneka ragam, mengikuti kebutuhan umat manusia yang semakin konsumtif dan semakin terikat tuntutan zaman yang juga kian berkembang.

Oleh sebab itu, muamalah sangat erat dengan perekonomian Islam ini bakal terlihat bila kita menonton salah satu bagiannya, yaitu dunia bisnis perniagaan dan khususnya level menengah ke atas. Seorang yang memasuki dunia perbisnisan ini membutuhkan kepekaan yang tinggi, feeling yang powerful dan keterampilan yang matang serta pengetahuan yang komplit terhadap sekian tidak sedikit epistimologi bersangkutan, seperti ilmu manajemen, akuntansi, perdagangan, bahkan perbankan dan sejenisnya. Atau sekian tidak sedikit ilmu yang secara tidak langsung juga dibutuhkan dalam dunia perniagaan modern, seperti komunikasi, informatika, operasi komputer, dan lain-lain. 

Bagi seorang muslim, dibutuhkan syarat dan prasyarat yang lebih tidak tidak banyak untuk menjadi wirausahawan dan pengelola modal yang berhasil, karena seorang muslim sering kali terikat. Di samping dengan kode etik ilmu perdagangan secara umum–dengan aturan dan syariat Islam dengan hukum-hukumnya yang komprehensif. Oleh sebab itu, tidak seharusnya seorang muslim memasuki dunia bisnis muamalah dengan pengetahuan kosong terhadap ajaran syariat dalam soal jual beli. Yang demikian itu adalahsasaran empuk ambisi setan pada diri manusia untuk menjerumuskan seorang muslim dalam kehinaan.

TUJUAN MEMPELAJARI FIQH MUAMALAH 
  1. Sebagai ketaatan guna syariah Allah Swt. Berdasarkan penjelasan dari Husein Shahhatah, dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami dan mengemban muamalah (ekonomi Islam) sebagai kepatuhan guna syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok guna sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari.
  2. Mewujudkan integritas seorang muslim yang kaffah, sehingga Islamnya tidak lagi persial, karena Islam tidak melulu ibadah dan munakahat, namun pun aspek-aspek lainnya, terutama ekonomi. Bila umat Islam masih bergelut dan mengemban sistem ekonomi ribawi dalam sekian tidak sedikit pekerjaan ekonomi, berarti keIslamannya belum kaffah, sebab ajaran ekonomi syariah diabaikannya. 
  3. Menerapkan dan mengemban ekonomi syariah baik dalam mencari nafkah, berdagang atau melalui bank syariah, asuransi syari’ah, reksadana syari’ah, pegadaian syari’ah, atau BMT, mengejar keuntungan duniawi dan ukhrawi. Keuntungan duniawi berupa keuntungan guna hasil, deviden | laba ukhrawi merupakan terbebasnya dari unsur riba yang diharamkan. Selain itu seorang muslim yang mengemban ekonomi syariah, mengejar pahala, karena telah mengamalkan ajaran Islam dan meninggalkan ribawi. 
  4. Praktek ekonominya menurut keterangan dari syariah Islam bernilai ibadah, karena telah mengemban syari’ah Allah SWT. 
  5. Mengamalkan ekonomi syariah melalui lembaga bank syariah, Asuransi atau BMT, berarti menyokong peradaban lembaga ekonomi umat Islam sendiri, berarti ’izzul Islam wal muslimin. 
  6. Mengamalkan ekonomi syariah dengan membuka tabungan, deposito atau menjadi nasabah lembaga keuangan syariah seperti bank syariah dan asuransi Syari’ah, berarti mendukung upaya pemberdayaan ekonomi umat Islam itu sendiri, karena duit yang terkumpul di lembaga keuangan syariah itu dapat digunakan umat Islam itu sendiri untuk mengembangkan usaha-usaha kaum muslimin. 
  7. Mengamalkan ekonomi syariah berarti mendukung gerakan amar ma’ruf nahi munkar, sebab fulus yang terkumpul tersebut hanya boleh dimanfaatkan untuk usaha-usaha atau proyek-proyek halal. 
  8. Mengamalkan ajaran ekonomi syariah akan dapat meningkatkan kesejahteraan umat dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Wallahu A'lam Bishawab

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fiqh/Fiqih/Fikih Muamalah Kontemporer - Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasannya dan Manfaat Mempelajarinya (Bagian 3)"

Post a Comment